top of page

Si Udik Terbang

  • Gambar penulis: suzuqira
    suzuqira
  • 11 Mar 2019
  • 3 menit membaca

https://videohive.net/item/clouds-behind-airplane-window/5674946

Enam kurang sepuluh, mendung menggantung, gerimis jatuh bersama peluh. Keringat membasahi keningku hanya karena sebuah backpack seberat 7 kilo di punggung dan sebuah koper coklat seukuran anak gajah di tangan kanan serta sekardus penuh makanan di tangan kiri. Garbarata berdinding kaca hanya mengantarkanku sampai pinggir landasan, memaksaku menyeret koper sejauh 200 meter mendekati burung bersayap besi. Deru si singa merah di sebelahnya membuat kupingku yang sensitif berdenging dan dadaku berdesir desir. Bising, berisik sekali menambah cepat degup jantungku yang gerogi. Untung saja, si burung putih yang kunaiki tangganya ini cuma menggeram-geram pelan, tampak santai agak tak berdaya.


Aku kadang heran dengan diriku sendiri, mengapa aku tak memasukkan koperku ke bagasi. Mungkin mindset udikku yang berkuasa sehingga aku enggan membayar bagasi dan takut gombal-gombalku dibongkar maling bagasi seperti punya orang-orang yang mengeluh di Instagram. Dengan membawa barang-barang ini aku merasa lebih aman, seolah-olah mereka bisa menutupi wajahku yang kusut karena belum mandi sehingga tak kelihatan kalau dilirik pramugari.


Tangga terakhir kunaiki, lalu aku disambut senyum manis pagar ayunya pesawat. Refleknya orang kampung kalau ketemu orang maunya salaman. Ketika tersadar hal itu tak lazim, kutarik tangan pura-pura lenganku gatal. Sambil tersenyum mengangguk kumasuki pesawat kelas ekonomi yang akan membawaku terbang untuk yang pertama kalinya. Sampai sini, sudah setengah jalan aku berhasil mengalahkan style kampungku yang kental.


Kulihat boarding pass di tangan, 17C, dan lagi-lagi aku di datangi mbak pramugari dengan rok belahan tinggi, tapi kali ini dia menanyakan tempat dudukku. Duh, siapa yang gak gemeteran, jangan-jangan dia mau ikut duduk di sampingku makanya dia tanya di mana kursiku. Tapi hayalanku buyar saat dia juga menanyai bapak-bapak gendut botak di belakangku. Mana mungkinlah ada pramugari duduk sama penumpang, itu adalah imajinasi yang nyata adalah bapak-bapak itu yang duduk di sampingku. Setelah meletakkan tas punggung dan koperku di overhead baggage, aku duduk di kursi biru yang lumayan empuk sambil mengedarkan pandangan.


http://www.ikutilangkahkaki.com/2016/02/perbedaan-kelas-ekonomi-maskapai-di.html

Bagi sobat-sobatku yang belum mengerti apa itu boarding pass dan overhead baggage jangan khawatir, gak perlu buka kamus akan aku beri tahu gampangnya. Jadi boarding pass itu semacam tiket gitu, kita bisa cetak di mesin check in yang ada di luar bandara atau minta dicetakkan oleh mbak-mbak yang jaga di counter maskapai. Jadi disitu ada namamu, pintu penerbangan, jam terbang dan nomor kursimu. Aku tahunya juga nyoba-nyoba sok bisa aja. Pokoknya gak perlu malu, biarpun norak yang penting eksis dan gak nyasar, hahaha. Kalo overhead baggage itu compartment alias bagasi yang letaknya di atas kepala atau di atas kursi penumpang.


Bagi kebanyakan orang, khususnya yang sudah sering naik pesawat, nunggu 1 jam sampai pesawat mendarat bisa jadi membosankan. Tapi buat yang udik dan first timer macam aku mulai dari pesawat take off sampai dia landing, semua jadi menarik. Di dalam kita juga bisa lihat para cabin crew memperagakan bagaimana cara menggunakan berbagai alat keselamatan seperti sabuk pengaman, baju pelampung, cara buka jendela darurat dan memakai masker oksigen. Meskipun experience is the best teacher, aku tidak pernah punya keinginan untuk memakai peralatan itu, apalagi pada kondisi sebenarnya.


Saat-saat paling mendebarkan buatku adalah pertama, ketika pesawat mau lepas landas. Aku sih pasrah sama Tuhan atas keselamatan perjalananku, tapi melihat orang yang duduk di sampingku memejamkan mata dan mencengkeram pegangan kursi sambil mulutnya komat-kamit baca doa, hal itu membuatku tidak nyaman. Aku khawatir saja kalau tiba-tiba orang itu lepas kendali dan membuat keributan. Dia benar-benar mirip orang mau kesurupan (maaf ya). Kedua adalah saat pesawat nabrak awan. Benda tipis putih yang kelihatannya empuk itu mampu mengguncang badan pesawat ketika ditabrak. Nah, ini yang bikin aku nahan napas. Yang ada cuma bisa berdoa semoga pesawat tidak jatuh. Mungkin kali ini aku yang kelihatan seperti orang sedang keracunan. Ketiga, adalah saat pesawat mendarat. Melihat pesawat yang lajunya sangat kencang terbayangkan olehku bagaimana hentakan roda pesawat dengan landasan. Bagaimana jika rodanya kempes, atau velg nya nanti bengkok atau paling parah kalau sampai patah. Meskipun sudah di darat tapi kecelakan saat pendaratan sangatlah berbahaya.


Semua kegelisahan sirna saat terbukanya pintu kabin depan, lalu aku sekonyong-konyong membuka bagasi atas dan mengambil tasku. Sungguh diluar kendali, karena tergesa-gesa hampir saja tas-tas berat itu menimpa para penumpang di bawahnya. Semua mata memandangku, menatap tajam dan beringas. Untung saja itu di dunia nyata, kalau hal itu terjadi di dunia maya, pasti jempol-jempol mereka telah dengan kejam mencaci makiku.


Perjalanan melalui udara yang pertama kali ini benar-benar mengajarkanku banyak hal, salah satunya adalah belilah tiket jauh-jauh hari karena tiket sekarang mahal sekali. lalu, jangan sekali-kali minta pramugari mematikan AC meskipun kamu kedinginan dan melihat pendinginnya berasap hebat, malu-maluin sobat misqueenku (kalau pesawatnya Boeing memang seperti itu). The last but not least, jangan tidur saat di pesawat kalau suara dengkuranmu dahsyat membahana karena hal itu bisa membahayakan keselamatan seluruh penumpang dan menghancurkan harga dirimu.



Ā 
Ā 
Ā 

Komentar


©2019 by The Journey.

  • facebook
  • instagram
bottom of page