top of page

The Journey: Petualangan Singkat ke Kampung Bayat

  • Gambar penulis: suzuqira
    suzuqira
  • 13 Mar 2019
  • 5 menit membaca

Kisah perjalanan ini bermula ketika pemerintah mengumumkan adanya penerimaan CPNS tahun anggaran 2018 yang jumlahnya sampai ribuan. Melihat stabilitas perekonomian dapur rumah sendiri yang mengepulnya kurang tinggi dan cash flow dompet orang serumah yang stagnan memaksaku untuk berani mengambil keputusan. Mempertimbangkan usia yang juga sudah mendekati batas akhir persyaratan pendaftaran dan tanggungan jiwa-jiwa mungil nan lucu yang bertambah maka pilihan untuk CPNS War adalah bisa-tidak-bisa-harus-bisa-masuk. Oleh karenanya strategi dari awal harus dipikirkan masak-masak agar target dapat dicapai.


Berbekal keteguhan hati, niat tulus untuk berjuang dan kekuatan restu keluarga (tak kalah sama restu orang tuanya SyahReino) maka pilihan untuk mendaftar jatuh ke provinsi Kalimantan Tengah. Sebuah nama SMA yang sangat asing di telinga mau tidak mau harus diambil karena di sanalah kesempatan terbesar itu muncul. Dari 2 formasi yang diperebutkan, sampai H-5 batas pendaftaran masih diisi oleh 8 pelamar. Tanpa ragu lagi maka palu diketok untuk SMAN 1 Belantikan Raya kabupaten Lamandau.


Singkat cerita, drama ujian saringan pertama atau SKD (Seleksi Kompetensi Dasar) sukses kudapatkan dengan nilai yang sangat dramatis. Dari 3 mata uji yaitu TWK (tes wawasan kebangsaan), TIU (tes intelegensi umum), dan TKP (tes karakteristik pribadi) nilai TIU ku hanya pas passing grade. Itu artinya jika nilaiku di bawahnya 1 poin saja maka akan berasa sangat sia-sia perjuanganku terbang ke Palangkaraya. Akan tetapi Allah yang maha baik membantuku sehingga aku bisa lolos dengan predikat P1/L satu-satunya untuk formasi yang kupililh. P1/L merupakan dambaan siapa saja pada tes CPNS kali ini karena sesuai peraturan awal hanya mereka yang memiliki predikat itu yang bisa lolos ke tahap berikutnya yaitu SKB (seleksi kompetensi bidang). Siapa yang tidak bahagia, terharu dan bangga ketika dari 2 formasi yang dibutuhkan aku adalah satu-satunya yang memiliki predikat itu. Aku dan istriku sudah senang bukan kepalang karena 80% kesempatan untuk menjadi ASN sudah di tangan.


Semua hal ada konsekuensinya, begitu pula dengan pilihanku merantau ke pulau seberang. Perasaan bahagia harus bercampur sedikit duka karena badan ini harus jauh dari keluarga, teman, dan kampung halaman. Rutinitas rumah, kampus, sekolah dan kegiatan les privat akan berubah. Pindah tempat, pindah kebiasaan dan campur bawa perasaan. Tapi, mulai dari titik inilah perjalanan akan dimulai. The real journey begins.


ā€˜Untunge’ sebuah kata yang melekat pada orang Jawa. Apapun keadaannya orang Jawa punya optimisme akan suatu kejadian, sehingga mereka akan berkata misalnya, ā€˜untunge duwitmu kur ilang rong juta; untunge malinge ora nganu awakmu (untungnya kamu cuma kehilangan uang 2 juta; untungnya si maling tidak melukaimu) dan lain-lain. Untungnya aku punya kakak sepupu yang tinggal di Kalimantan meskipun domisilinya berbeda kabupaten dengan tempat yang aku lamar. Beda kabupaten di Kalimantan jauh berbeda dengan di Jawa. Luasnya daerah di pulau Borneo ini membuat jarak dari 1 kabupaten ke kabupaten lain mencapai ratusan kilometer yang dapat ditempuh hingga seharian. Dengan bantuan kakak sepupu ini aku bisa menemukan ceruk-ceruk tersembunyi kecamatan Belantikan Raya seperti misalnya desa Bayat yang berada nun jauh disana.


Perjalananku ke Bayat dimulai dari Kumai yang terletak di Kabupaten Kotawaringin Barat (sering disingkat Kobar). Aku berangkat dari rumah kakak pukul 4 dini hari, menembus kabut tipis dan udara yang lumayan dingin menuju kabupaten Lamandau. Dari Kumai aku harus melewati kota Pangkalanbun yang masih lengang saat subuh. Setelah melewati Bundaran Pangkalan Lima maka aku keluar dari kota terbesar di Kobar ini. Pangkalan Lada menyambutku dengan suara Talqim menjelang subuh. Tepat pukul 4.30 aku sampai di Sungai Rangit dan mampir di masjid besar untuk sholat subuh. Setelah sholat aku melanjutkan perjalanan. Jalan aspal masih mulus, suasana masih lengang, setelah sekitar 30 menit motor ku belokkan di simpang Runtu. Untuk sampai di Lamandau aku harus melewati Runtu, sulung, dan akhirnya masuk wilayah Lamandau. Perjalan dari Simpang Runtu sampai Gapura selamat datang di Bumi Bahaum Bakuba Kabupaten Lamandau ditempuh sekitar 1 jam dengan jarak tempuh kurang lebih 70 km. medan yang dilewati adalah perbukitan yang terdiri dari tanjakan dan tikungan-tikungan tajam.


Gerbang Masuk Kabupaten lamandau, Kalimantan Tengah

Untuk ke Bayat dari Gapura selamat datang kita hanya perlu lurus sampai menjumpai bundaran atau yang lebih sering disebut dengan simpang kethek (simpang monyet). Dari simpang ini, jika lurus kita akan masuk ke kota Nangabulik, dan jika ingin ke Bayat kita harus ambil jalan ke kanan. Dari simpang kethek kita akan menjumpai simpang Perigi. Jalanan sampai titik ini masih beraspal dan cukup baik meskipun ada lubang di sana sini dan dibeberapa ruas aspal terputus. Dari simpang Perigi lurus melewati jalanan tanah cukup halus dan 30 menit kemudian kita sampai di Beruta. Lagi-lagi di sini kita menjumpai persimpangan jalan, memang banyak sekali bundaran atau simpang di kota-kota di Kalimantan. Mulai dari Beruta ini ketahanan fisik dan psikis kita akan diuji. Jalanan tanah dengan lebar hampir sepuluh meter membentang di hadapan kita. Kondisinya cukup memprihatinkan karena banyak lubang dan jalur-jalur air hujan berseliweran ditambah tanjakan-tanjakan yang cukup tinggi. Jika hujan, akses akan sangat sulit karena bubur lumpur siap merendam kendaraan kita. Jika cuaca panas, siap-siap masker karena debu menari kesana kemari di depan muka kita. Perjalanan yang extreme ini harus ditempuh kurang lebih 1,5 jam hingga kita bisa menemukan tanda-tanda peradaban di Bayat.


Jalan tanah dari simpang Perigi ke Bayat

Sepanjang jalan banyak perkebunan kelapa sawit dan rawa-rawa. Kita juga akan melewati beberapa jembatan besar yang melintas di atas sungai besar. Aku lupa apa saja nama sungai-sungai tersebut tapi ada yang namanya sungai Arut dan Batu Tatal. Kita bisa mengetahui nama sungainya karena ditiap jembatan ada tulisan nama sungai tersebut. Sebenarnya jika jalanan sudah beraspal, kita bisa lebih menikmati perjalanan ini karena telinga kita juga akan dimanjakan dengan kicauan burung-burung liar yang terbang atau hinggap di pohon-pohon akasia yang tinggi. Bahan bakar harus diisi penuh setidaknya ketika sampai di Simpang Perigi karena trek naik turun yang liar akan terus menemani sampai Bayat. Di kecamatan Belantikan Raya, dekat daerah Sumber Cahaya ada pom bensin Pertamina tapi yang antri disini adalah para pelangsir yang bawanya puluhan jerigen di mobil bak terbuka. Beli BBM disini tampaknya bukan pilihan yang cerdas.


Kebun sawit dan rawa rawa di kanan kiri jalan

Setelah berkendara hampir 1,5 jam di jalanan tanah aku melihat sumber semangat. Jalan aspal. Itu artinya aku telah berada di Simpang Bayat. Jalan aspal ini mengarahkan kita ke kanan, naik cukup tinggi lalu ada kantor Dinas pendidikan dan kebudayaan naik sedikit lagi kita akan melihat kantor kecamatan di sebelah kanan. Dari sini kita akan melihat tower (BTS) Telkomsel dikejauhan. Ketika motor semakin dekat, rupanya BTS ini tepat berada di depan SMAN 1 Belantikan Raya, tempat dimana aku akan mengabdi menjadi guru di pedalaman. Sekolah ini terletak di semacam puncak dari sebuah bukit kecil sehingga kita akan melihat pemandangan yang cukup indah di sekeliling kita. Disinilah pusat peradaban Bayat. Kampung suku Dayak yang asri yang sedang menggeliat untuk tumbuh dan berkembang menjadi kota kecamatan yang ramai.


SMAN 1 Belantikan Raya

Tower Telkomsel di Bayat

Tak jauh dari sekolah, tampak jalanan menurun curam yang di ujungnya ada bangunan-bangunan modern berwarna hijau. Bangunan tersebut adalah puskemas. Selanjutnya ada lahan sawit luas membentang yang kabarnya di sana banyak tinggal transmigran dari berbagai daerah di Indonesia. Di sisi lain ada rumah-rumah panggung, toko kelontong, dan kantor-kantor yang umumnya ada di kecamatan. Melewati sekolah aku menjumpai gereja besar yang sedang dalam tahap pembangunan. Lalu ada pasar yang tak jauh dari sungai besar. Anjing tampak jalan-jalan santai di sana bersama sepeda motor yang lalu lalang. Warganya ramah dan tampak welcome.


Barakan untuk tinggal/kos

Rumah panggung khas Dayak

Kunjungan utama dan terakhirku adalah ke sekolah dimana aku akan bekerja. Lelahnya badan karena kondisi jalan dan frustasinya perasaan karena panas dan jauhnya mencapai tempat ini langsung sirna ketika ibu kepala sekolah menyambut dengan senyum dan Bapak Ibu guru lainnya menyapa dengan ramah.


Bayat, masih banyak yang belum aku tahu tentang dirimu. Terimalah aku dan semoga aku bisa bermanfaat untukmu.

Komentar


©2019 by The Journey.

  • facebook
  • instagram
bottom of page